Aku Benci Bahasa Arab
Bahasa bisa
menjadi sarana ekpresi diri bagi orang yang mengucapkannya.
Siang waktu itu hendak memasuki
waktu dzuhur, kelas perkuliahan baru saja selesai. Terdengar ada dua orang
mahasiswa yang sedang berbincang-bincang. Bahasa yang mereka gunakan dapat
dibilang cukup aneh, tetapi dapat
dipahami oleh orang lain. Mereka mengunakan istilah “Ane” dan “ente”
dalam percakapan mereka. Tiba-tiba salah seorang teman mereka menyela
pembicaraan mereka dan berkata “Hih, ane-ente ane-ente, sok-sok an pakai
bahasa Arab, emang gak ada bahasa Indonesia apa”. Untunglah dua orang
tersebut tidak menggubris selaan temannya yang mencibir mereka.
Pernah ngeliat kejadian seperti
cerita yang tadi ? atau mungkin pernah ngalamin ? Kalau memang pernah ngalamin atau pernah
lihat sebenarnya jangan terlalu dibawa serius masalah ini, ya kalemin aja. Oh ya, cerita diatas tidak 100 % nyata, tapi
kondisi pencibiran terhadap “Budaya Arab” bukanlah hal yang Fiksi. Kita bisa
melihat terutama di sosial media atau kita temukan di masyarakat sekitar kita,
pencibiran terhadap individu yang terkesan menggambarkan “Budaya Arab”. Penggunaan cadar yang disebut ninja, memakai celana ngatung dibilang
kebanjiran, menggunakan istilah syukran, afwan, akhi, ukhti, dll,
langsung menimbulkan kesan “Dia si sok agamis”.
Ironinya stigma negatif seperti
ini memiliki standar ganda, stigma ini tidak berlaku untuk penggunaan bahasa
asing lainnya sebut saja misalkan bahasa Inggris. Orang yang mempelajari bahasa
Inggris atau mengunakan bahasa Inggris dalam percakapannya akan diberi label
“orang yang ber-intelektual”. Kita bisa melihat bahwa banyak anak muda zaman
sekarang lebih bangga menggunakan bahasa Inggris dari pada bahasa Indonesia
yang baik dan benar.
Mempelajari bahasa asing bukanlah
hal yang terlarang. Jika berdalih demi menghargai kebudayaan bangsa Indonesia,
itu bukanlah hal tepat. Karena bangsa Indonesia sendiri memiliki banyak suku,
sehingga konsekuensi logisnya, Indonesia memiliki banyak bahasa daerah. Lantas
apakah penggunaan bahasa daerah berarti tidak menghargai bahasa Indonesia ?. Zaman
semakin berkembang, dengan kemudahannya interaksi karena semakin canggihnya
teknologi pertemuan antar budaya memang tidak bisa dielakkan. Maka akan sangat
bijak jika bangsa Indonesia tidak mengekslusifkan “dirinya” dengan mendewakan
bangsanya.
Jikalau ditarik mundur sejarah
Indonesia, Indonesia “sekarang” hadir karena percampuran budaya-budaya yang
pernah masuk kedalam Indonesia, termasuk dalam bidang bahasa. Uniknya lagi
salah satu bahasa yang banyak mempengaruhi kosa kata bahasa Indonesia adalah bahasa
Arab. Contohnya adalah kata-kata Majelis Permusyawaratan Rakyat. Majelis dan
Permusyawaratan adalah kata serapan dari bahasa Arab, sekarang mari kita
pikirkan adakah bahasa Indonesia “asli” yang dapat mengganti kata-kata tersebut
tetapi masih memiliki makna yang sama ? oke mari kita coba. Majelis dapat kita
artikan sebagai tempat duduk, Permusyawaratan dapat kita artikan sebagai
kegiatan untuk mencapai kata sepakat. Jika kata Majelis Permusyawaratan Rakyat
kita ganti dengan Tempat Duduk Kegiatan untuk mencapai Kata Sepakat Rakyat, manakah yang lebih enak
didengar ?
Untuk umat muslim, bahasa Arab
adalah bahasa yang istimewa. Karena bahasa Al-qur’an adalah bahasa Arab, ketika
shalat juga memakai bahasa Arab. Jika seseorang shalat, tetapi dia tidak
memaknai apa yang dia baca, maka jangan heran jika shalatnya tidak bisa
mencegahnya dari perbuatan keji dan mungkar. Oleh karena itu, bagi seorang
muslim wajiblah untuk bisa menguasai bahasa Arab, minimal adalah bacaan
shalatnya. Maka akan sangat lucu jika ada sesorang muslim pula, yang mencibir pemakaian
bahasa Arab dalam percakapan sehari hari.
Terakhir, marilah kita
kurang-kurangi dan ingatkan kepada teman-teman kita yang masih memiliki
miskonsepsi dengan bahasa Arab. Jelaskan kepada mereka sebarapa benting bahasa
Arab bagi Indonesia maupun bagi umat islam. Banggalah menjadi seorang muslim
dan berbanggalah menjadi orang Indonesia. Berbanggalah dengan bahasa Arab dan
berbanggalah juga dengan bahasa Indonesia.
Jakarta, 20 April 2017
Ufara
Rizki Pranjia
Mantaap 😊 Sukses selalu ya
BalasHapus