Kaderisasi Ala Rasulullah




Sebenarnya ini tulisan lama, dan digunakan untuk syarat kelulusan acara perkaderan. Terus pas tadi ngubek-ngubek laptop karena lagi nyari referensi tulisan untuk program lain, nemu lah tulisan ini. Sayang dari pada ngendep di Laptop, di post aja siapa tau bisa mencerahkan, walau sedikit.


Kaderisasi Ala Rasulullah


“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu uswatun hasanah (suri teladan yang baik) bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al-Ahzaab: 21)


Dalam suatu organisasi, Kader adalah ujung tombak sekaligus tulang punggung kontinuitas sebuah organisasi. Dari mereka bukan saja diharapkan eksistensi organisasi tetap terjaga, melainkan juga diharapkan kader tetapakan membawa misi gerakan organisasi. Makna dari kader itu sendiri adalah orang atau kumpulan orang yang dibina oleh suatu lembaga kepengurusan dalam sebuah organisasi, baik sipil maupun militer, yang berfungsi sebagai 'pemihak' dan atau membantu tugas dan fungsi pokok organisasi tersebut.  Bung Hatta pernah menyatakan kaderisasi dalam kerangka kebangsaan, “Bahwa kaderisasi sama artinya dengan menanam bibit. Untuk menghasilkan pemimpin bangsa di masa depan, pemimpin pada masanya harus menanam.”




Dari sini, pandangan umum mengenai kaderisasi suatu organisasi dapat dipetakan menjadi dua ikon secara umum. Pertama, pelaku kaderisasi (subyek). Dan kedua, sasaran kaderisasi (obyek). Untuk yang pertama, subyek atau pelaku kaderisasi sebuah organisasi adalah individu atau sekelompok orang yang dipersonifikasikan dalam sebuah organisasi dan kebijakan-kebijakannya yang melakukan fungsi regenerasi dan kesinambungan tugas-tugas organisasi.


Karena sangat pentingnya kader bagi suatu organisasi, maka perlulah dilkukan kaderisasi. Kaderisasi mempunyai fungsi produksi dan regenerasi. Proses kaderisasi yang baik akan memproduksi dan mencetak kader yang baik pula.


Telah dipaparkan dengan jelas dalam ayat tersebut bahwa Nabi Muhammad saw adalah role model terbaik yang pernah diutus oleh Allah swt kepada umat manusia. Dalam setiap tindak tanduknya tidak ada yang tidak bisa diambil menjadi sebuah pelajaran yang berharga. Nabi Muhammad saw sebagai Rasul, sebagai pemimpin dalam keluarga, sebagai kepala negara, bahkan sampai sebagai pendidik atau pengayom umat nya.


Jika kita perhatikan secara jeli, bagaimana sahabat nabi dapat menorehkan prestasi – prestasi yang luar biasa dalam sejarah, kita bisa melihat pada sosok mush’ab bin umair yang ketika di utus Yastrib sebelum Rasulullah saw hijrah ke sana dan berhasil membuat banyak penduduk Yastrib masuk ke dalam islam di bawah arahan dakwahnya. Jika kita melihat para Khalifah, kita bisa melihat Abu Bakar pada saat masa kekhalifahannya yang cukup singkat, mampu membalikan  stabilitas pemerintahan pasca meninggalnya Rasulullah saw. Kita juga melihat masa kekhalifahnnya Umar bin Khattab yang melakukan ekspansi wilayah islam sampai ke Mesopotamia dan sebagian Persia dari tangan dinasti Sassanid dari Persia (yang mengakhiri masa kekaisaran sassanid) serta mengambil alih Mesir, Palestina, Syria, Afrika Utara dan Armenia dari kekaisaran Romawi (Byzantium). Melihat kesuksesan yang ditorehkan oleh sahabat sahabatnya, tentu nya ada resep rahasia yang di miliki oleh nabi Muhammad saw  dalam melakukan kaderisasi terhadap umat islam pada zaman Nya sehingga dapat mecetak generasi terbaik umat manusia.


“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (Q.S. Ali Imran : 110)


Lalu bagaimana wajah kegiatan perkaderan – perkaderan pada saat ini ?, jika kita kaitkan istilah perkaderan ini dengan organisasi terutama dengan organisasi mahasiswa maka yang akan muncul dibenak masyarakat umum secara umum adalah perkeloncoan, kaderisasi yang tidak terpuji,  hal ini dapat kita lihat dari banyaknya berita tentang kaderisasi di Kampus yang menggunakan kekerasan, kegiatan-kegiatan fisik yang berlebihan yang sampai memakan jiwa kader nya sendiri.  Contoh lain, kita bisa melihat banyak nya kegiatan kaderisasi yang sebenarnya cukup bagus, tapi tidak mengahasilkan kader sesuai yang diharapkan. Tentunya ada “suatu hal” yang hilang dalam sistem pengkaderan saat ini, “suatu hal” yang diterapkan oleh Rasulullah saw, tetapi tidak pada saat ini.


Karena sudah jelas hasil dari kaderisasi oleh Nabi Muhammad saw yang lebih baik dari sistem kaderisasi saat ini, yaitu melahirkan kader-kader yang militan, kader – kader yang dapat memimpin umat manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah pula, maka sepatutya sebagai bagian dari umat Nabi Muhammad saw kita dapat menerapkan tehnik-tehnik kaderisasi sesuai dengan Rasul contohkan. Lalu bagaimana tehnik kaderisasi yang dilakukan oleh Rasulullah ?


Kader-kader Rasulullah saw, terlahir dari sebuah generasi rabbani yang tidak hanya  teristimewakan dengan keluasan ilmu, namun juga kekuatan iman dan taqwa, kelurusan logika dan cara pandang, serta ketinggian hikmah dan akhlak. Keempat poin ini bila terdapat dalam diri seorang mukmin maka ia telah menanamkan sifat bashirah dalam dirinya. Poin –poin inilah yang seharusnya ditanamkan kepada kader-kader didalam suatu organisasi, jika terlebih lagi organisasi tersebut adalah gerakan dakwah.


Jikalau kita menengok ke sejarah lampau, adalah Rumah Al-Arqam bin Abi Al-Arqam yang menjadi tempat majelis ilmu umat islam pertama kalinya, dari tempat inilah Rasulullah saw mengkader sahabat-sahabatnya agar siap mendakwah kan islam dengan menanamkan 4 poin yang sudah dijelaskan sebelumnya. Berkumpulnya para sahabat secara rutin dalam halaqah tarbiyah Dar Al-Arqam memberikan banyak manfaat khususnya penyampaian wahyu Allah, pengajaran Islam, dan penjelasan visi misi dakwah Islam serta pembagian tugas dakwah. Hal inilah yang membentuk watak ketegaran iman dan karakter qiyadah (kepemimpinan) para sahabat.


Poin  yang kedua adalah keteladanan, Proses kaderisasi membutuhkan keteladanan. Seperti yang dicontohkan Rasulullah, yaitu dengan melakukan apa yang ia katakan. Sehingga kadernya menjadi taat dan melaksanakan apa yang beliau serukan. Jika kita bandingkan dengan kondisi kaderisasi pada saat ini, terutama di organisasi kampus, kita mendapati hasil kaderisasi tidak berjalan dengan baik, dengan kata lain kader tidak terbentuk sesuai  yang diharapkan, padahal saat melakukan kaderisasi, subyek yang melakukan kaderisasi (instruktur atau pelatih ataupun tutor) sudah merasa menanamkan nilai-nilai yang harus dimiliki oleh kader, jawabannya cukup sederhana, hal ini disebabkan karena subyek yang melakukan kaderisasi tersebut tidak menerapkan nilai- nilai apa yang dia sampaikan terhadap kadernya. instruktur atau pelatih ataupun tutor menegaskan kepada kader untuk melaksanakan nilai-nilai religiusitas, tetapi di lain kesempatan kader melihat sosok yang pernah mengajarinya tentang nilai religiusitas tersebut tidak menerapkan apa yang dia ucapkan.


“Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (Q.S. Ash-Shaff : 2-3)


Poin selanjutnya adalah sistematis, Rasulullah saw dalam melakukan kaderisasi selalu teratur dan terencana. Karena suatu kegiatan dalam hal ini kaderisasi, jika disusun secara baik dan matang akan menghasilkan hal yang maksimal. Saat di rumah Arqam, Rasulullah sudah membuat rencana bagaimana beliau akan mendidik atau menggembleng sahabat-sahabatnya, jadi, para sahabat tidak hanya duduk diam saja, melainkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan pada setiap mereka tugas dan beban yang mesti dilaksanakan.


Diantara tugas sebagian para sahabat adalah penyambutan orang-orang asing yang datang ke Mekkah demi untuk mencari kejelasan tentang agama Islam yang mulai tersebar kabarnya di luar Mekkah, tugas ini dibebankan pada Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu. Hal ini tergambarkan dari kisah Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu yang datang ke Mekkah demi mencari kejelasan tentang agama Islam, yang kemudian diajak oleh Ali bin Abi Thalib untuk mengahadap Rasul di Rumah Arqam.


Oleh karena itu, dapat kita simpulkan bersama bahwa jika kita mengharapkan kader-kader seperti sahabat nabi, maka lakukanlah kaderisasi seperti yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad saw. Jika kita menerapkan sistem kaderisasi ala Rasulullah saw tersbut, Insya Allah dengan Rahmat Nya maka akan lahir kader-kader yang tidak hanya melanjutkan gerakan dakwah suatu organisasi, akan tetapi dari kader-kader tersebut akan tercipta masyarakat islam yang sebenarnya, Insya Allah.




Sumber Pustaka :




juni 2016, pukul 22 :57

https://id.wikipedia.org/wiki/Kader, diakses pada  23 juni 2016, pukul 22 :57


juni 2016, pukul 07:31




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Benci Bahasa Arab

Arogansi Intelektual, Adakah dalam Diri Kita?