Kanibalisme ( Ghoul man )
Siang kala itu berjalan seperti biasanya, banyak orang yang sejenak
mengambil rehat untuk makan siang dengan kawan-kawannya setelah lelah
beraktivitas. Santapan yang dipilihpun untuk mengeyangkan perut siang itu cukup
beraneka ragam, ada bakso, nasi goreng,
nasi padang, sate yang pakai daging ayam, daging sapi, sampai daging manusia. Loh,
kok ?
Kanibal, adalah sebuah fenomena di mana suatu makhluk hidup memakan
makhluk sejenisnya. Fenomena ini pernah terjadi di Indonesia dan sempat membuat
heboh, bagaimana tidak, ternyata ada manusia yang dengan suka rela tidak hanya membunuh
tetapi juga memakannya. Jijik ? Mungkin inilah kata yang terngiang jika kita
membicarakan tentang kanibal, dengan teganya manusia memakan manusia yang lain,
bahkan dalam kondisi darurat sekalipun, misalnya dalam kondisi bencana tidak
ada makanan dan yang ada hanya mayat manusia, jika dia masih normal dia tidak
akan mungkin tega memakan bangkai sesama jenisnya sendiri.
Seharusnya seperti itu yang terjadi, tetapi fenomena memakan
bangkai manusia tetap terus berlanjut sampai sekarang dan dianggap lumrah untuk
sebagian orang. Gak percaya ? oke coba saja pergi ke pasar dan jika anda
melihat ada segerombolan ibu-ibu sedang berkumpul, perhatikan apa yang
sebenarnya mereka bicarakan. Atau coba pergi ke kantin sekolahmu banyak
teman-teman mu yang asik menyantap jajanannya dan menyantap daging manusia, iya
dia sedang membicarakan keburukan seseorang atau kita akan sebut dengan ghibah.
Sebenarnya saya sudah cukup sering menulis atau membicarakan
tentang bahayanya keburukan ghibah, alasannya adalah karena dosa ini sangat
sering dilakukan oleh kaum muslimin terutama para muslimah padahal dosa ghibah
ini termasuk dalam dosa besar.
Sebelum membahas tentang bagaimana sebenarnya hukum Ghibah,
hendaknya kita mengetahui makna dari ghibah tersebut berdasrkan hadits. Rasulullah saw telah bersabda : Apakah
kalian mengetahui apa ghībah itu ? Mereka berkata: Allah dan Rasul-Nya lebih
mengetahui. Beliau bersabda : (Ghībah itu) adalah pengungkapan engkau
tentang saudaramu mengenai apa yang ia benci. Dikatakan (ia ditanya): Apakah
pendapatmu jika yang ada pada saudaraku sesuai apa yang saya katakan Beliau
bersabda: Jika yang ada padanya sesuai apa yang engkau katakan, maka
sesungguhnya engkau telah menggunjingnya, dan jika tidak sesuai yang ada
padanya, maka sungguh engkau telah mendustakannya. (HR. Muslim; Turmuzi
dan Ahmad).
Dalam suatu riwayat, ada seorang wanita yang menemui ‘Aisyah
radhiyallahu ‘anha. Tatkala wanita itu hendak keluar, ‘Aisyah berisyarat pada
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan tangannya untuk menunjukkan bahwa
wanita tersebut pendek. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bersabda,
قَدِ اغْتَبْتِيهَا
“Engkau telah
mengghibahnya.” (HR. Ahmad 6: 136. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa
sanad hadits ini shahih sesuai syarat Muslim)
Jadi jelaslah bahwa ghibah adalah memberitahukan keburukan yang ada
pada saudaranya dan itu memang benar ada padanya, tetapi jika hal itu tidak ada
berarti kita telah memfitnahnya. Bahkan menjelekkan seseorang dengan isyarat
pun (tidak dengan ucapan) itu juga sudah termasuk dalam perbuatan ghibah.
Allah berfirman dalam Al-Qur’an :
يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ
الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا أَيُحِبُّ
أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا
اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَّحِيمٌ
“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah
kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu
dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan
satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging
saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan
bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha
Penyayang”. Q.S Al-Hujurat: 12
Dalam firman
Allah diatas, kita bisa konversikan bahwa perbuatan ghibah setara dengan
memakan daging saudaranya yang sudah mati. Dalam ayat diatas kehormatan seorang mukmin
diibaratkan adalah dagingnya sendiri dan sudah pasti haram untuk memakan daging
saudaranya sendiri, begitu juga dengan membeberkan aib sesama muslim.
Mungkin ada
yang penasaran kok sampai segitunya Allah menganalogikan para
pelaku ghibah ? Oke, mari saya bantu. Anda pasti sudah sangat tahu betapa Allah sangat menyayangi hamba-hambanya,
salah satu buktinya adalah dengan menutupi aib-aib kita. Kemudian ada seorang
manusia yang lancang yang dengan entengnya membeberkan aib saudaranya padahal
yang hakikatnya Allah menutupi aib-aib kita. Menurutmu akan seperti apa murka
Allah kepadamu ?
Lalu bagaimana
jika kita sudah terlanjur melakukan perbuatan ghibah ini ? jawabannya adalah
segera bertaubat kepada Allah Swt dan meminta maaf kepada orang yang pernah
kita ghibahi, iya, karena perbuatan ghibah ini sifatnya adalah mendazlimi orang
lain, sehingga kita harus meminta maaf kepada orang yang bersangkutan jika
ingin dosa ghibahnya juga diampuni.
Karena ketahuilah,
jika dosa ghibah ini tidak terampuni maka balasannya adalah siksa dalam keadaan
mencakar muka dan dada sendiri seperti dalam hadits nabi yang diriwayatkan oleh
Abu Dawud dan Ahmad, Rasulullah Saw bersabda :
لما عٌرج
بى مررت بقوم لهم اظفار من نحاس يخمشون وجوههم و صدورهم فقلت :من هؤلاء يا جبريل؟
قال: هؤلاء الذين يأكلون لحوم الناس و يقعون فى أعراضهم.
Artinya: Ketika
aku dinaikkan ke langit, aku melewati suatu kaum yang memiliki kuku-kuku dari
tembaga, mereka melukai (mencakari) wajah-wajah mereka dan dada-dada mereka.
Maka aku bertanya :”Siapakah mereka ya Jibril?” Jibril berkata :”Mereka adalah
orang-orang yang memakan daging-daging manusia dan mereka mencela
kehormatan-kehormatan manusia”.
Poin terakhir
yang ingin saya sampaikan mari kita sama sama tinggalkan perbuatan kanibal ini.
Saya sendiri pun belum bisa menjamin diri sendiri apakah kedepannya saya tidak
akan terjerat dosan ini, tetapi tidak ada salahnya kita selalu mawas diri
dengan cara mengingat kengeriannya salah satu dosa besar ini. karena siksaan
yang berat dan cara taubatnya tidak hanya cukup dengan bertaubat kepada Allah,
coba kita hitung-hitung sampai saat ini sudah berapa orang yang pernah kita
ghibahi. Na’udzubillahi min dzaalik jika saat kita di Akhirat nanti
pahala kita habis karena kita tidak sempat meminta maaf kepada orang yang
pernah kita ghibahi. Dan jika kita melihat ada teman kita yang sedang melakukan
ghibah ini, kita tidak boleh hanya diam saja, karena itu sama saja kita setuju
dengan apa yang dia ghibahi, minimal kita segera beranjak dari tempat itu, atau
jika mampu kta mengingatkan teman kita agar tidak melanjutkan perbuatannya. Akhir
kata, masihkah Anda berani melakukan ghibah ?
Referensi :
Ceramah Ustadz Rizal Fadli Nurhadi
Komentar
Posting Komentar