Ghibah, Keburukan yang Menjadi Perbincangan


Assalamualaykum warohmatullahi wabarokaatuh

Bismillah

Saat sedang bercerita, banyak hal yang ingin disampaikan kepada teman teman sebagai tempat berbagi, keluh kesah yang sedang dialami, kebahagiaan yang sedang dirasakan, saking asiknya, sampai sampai kejelekan orang lain menjadi topik pembicaraan yang hangat, alih-alih sudah mengetahui bahwa membicarakan orang itu adalah suatu hal yang tidak patut dilakukan, kita hanya mengucapkan istighfar atau meminta ampun kepada Allah dengan nada guyonan secara spontan, pernah melihat fenomena ini?



Berdasarkan cerita diatas, sudah pasti teman-teman sekalian tahu, topik apa yang akan saya bahas, yup ini semua tentang membicarakan orang lain terutama membicarakan kejelekannya. Dalam bahasa arab fenomena ini disebut ghibah, pernah mendengar istilah ini kan? Biar teman-teman lebih memahami apa yang dimaksud dengan ghibah, coba cek hadits nabi SAW:

Rasulullah saw telah bersabda : Apakah kalian mengetahui apa ghībah itu ? Mereka berkata: Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui. Beliau bersabda : (Ghībah itu) adalah pengungkapan engkau tentang saudaramu mengenai apa yang ia benci. Dikatakan (ia ditanya): Apakah pendapatmu jika yang ada pada saudaraku sesuai apa yang saya katakan Beliau bersabda: Jika yang ada padanya sesuai apa yang engkau katakan, maka sesungguhnya engkau telah menggunjingnya, dan jika tidak sesuai yang ada padanya, maka sungguh engkau telah mendustakannya. (HR. Muslim; Turmuzi dan Ahmad).

Oke, dapat kesimpulannya kan? Sangat jelas berdasarkan hadits diatas singkatnya ghibah adalah membicarakan suatu kejelekan aib seorang. Lalu hukum dari ghibah itu sendiri bagaimana? Coba buka Al-qur’an kamu dan lihat Surat Al-hujurat ayat 12, Allah berfirman:

ولا يغتب بعضكم بعضا أيحب أحدكم أن يأكل لحم أخيه ميتا فكرهتموه واتقوا الله إن الله تواب رحيم
Artinya: Dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Apakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allaah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.

Coba perhatikan baik-baik ayat diatas, bagaimana Allah swt merumpamakan orang yang membicarakan keburukan saudaranya seperti telah memakan daging saudaranya yang sudah mati, bukankah kita akan merasa jijik?  Apakah diri kita tidak merasa hina, disaat kita sedang asyik membicarakan orang lain, tetapi Allah swt melihat kita seolah – olah  sedang memakan bangkai saudaranya yang sudah mati.

Dalam beberapa kasus, ghibah boleh saja dilakukan dalam situasi tertentu, contohnya di mana ia dapat menyelamatkan seseorang dari bencana atau potensi terjadinya sesuatu yang kurang baik jika dia meberitahukan kejelekan orang yang bersangkutan atau Orang yang terzalimi bisa menyebutkan kejahatan seseorang terhadap dirinya. Tentunya hanya bersifat pengaduan kepada orang yang memiliki qudrah (kapasitas) untuk melenyapkan kezaliman.

Tetapi, kenyataan dalam masyarakat berkata lain, ghibah berubah menjadi bahan utama dalam perbincangan dengan rekan kerja, tetangga tanpa merasa bersalah dan seolah – seolah hal tersebut sudah menjadi hal yang biasa.

Saya pernah membicarakan orang lain, anda mungkin juga pernah membicarakan orang lain, oleh karena itu, mari kita hentikan kebiasaan memakan bangkai saudara kita sendiri mulai dari sekarang, jangan malu untuk mengingatkan teman dan rekan jika mereka memulai membicarakan orang lain jika tidak untuk kemaslahatan. Selalu ingatlah bau bangkai yang busuk jika anda hendak membicarakan orang lain. Semoga Allah Swt selalu melindungi kita dari semua perbuatan buruk termasuk dari perbuatan menggujingkan orang lain.

Saling Menasihati untuk Kebenaran dan Saling Menasihati untuk Kesabaran


Untuk sumber
Al-quran
Hadits
http://abuqassam.blogspot.com/2014/10/dalil-quran-dan-hadits-tentang-ghibah.html

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kaderisasi Ala Rasulullah

Aku Benci Bahasa Arab

Arogansi Intelektual, Adakah dalam Diri Kita?